![]() |
| Foto: Ilustrasi pasar tradisional.(Ist) |
BANDUNG - Kekhawatiran masyarakat Jawa Barat terhadap lonjakan harga dan kelangkaan bahan pangan menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026 tampaknya bisa ditepis.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat memastikan, pasokan sejumlah komoditas utama berada dalam kondisi aman, bahkan diprediksi mengalami surplus hingga April 2026.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jawa Barat, Linda Al Amin, mengungkapkan bahwa stok pangan strategis seperti beras, jagung, daging sapi, daging ayam, hingga cabai rawit tersedia jauh di atas kebutuhan masyarakat.
“Dalam tiga bulan ke depan, ketersediaan beras di Jawa Barat mencapai 3,1 juta ton. Sementara kebutuhan masyarakat hanya sekitar 1,5 juta ton. Artinya, kita dalam kondisi surplus,” kata Linda, Sabtu (7/2/2026).
Tak hanya beras, pasokan jagung juga berada di level aman. Kebutuhan jagung selama Februari hingga April 2026 diperkirakan mencapai 325.471 ton, sementara ketersediaannya menembus 493.153 ton.
Lonjakan konsumsi daging sapi dan kerbau yang biasanya terjadi saat Lebaran pun dipastikan dapat terlayani.
Pemerintah mencatat, stok daging sapi dan kerbau mencapai 60.448 ton, jauh di atas kebutuhan masyarakat yang berada di angka 39.815 ton.
Sementara itu, komoditas daging ayam juga berada dalam kondisi surplus. Ketersediaannya tercatat mencapai 392.609 ton, sedangkan kebutuhan hanya sekitar 211.051 ton.
“Daging ayam tidak perlu dikhawatirkan. Stoknya sangat mencukupi,” ujar Linda.
Komoditas yang kerap menjadi pemicu inflasi saat Ramadan, yakni cabai rawit, juga dipastikan aman.
Ketersediaannya mencapai 55.688 ton, sementara kebutuhan diperkirakan sebesar 35.483 ton.
Menurut Linda, kondisi surplus ini bukanlah kebetulan.
Data neraca pangan Januari 2026 menunjukkan 12 komoditas utama, termasuk beras, cabai, bawang merah, bawang putih, daging ayam, dan daging sapi, berada dalam kondisi surplus.
Untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan akses masyarakat terhadap bahan pokok, Pemprov Jawa Barat juga menyiapkan langkah konkret.
Salah satunya melalui pelaksanaan Gerakan Pangan Murah yang akan digelar di seluruh 27 kabupaten dan kota.
Program ini diharapkan menjadi bantalan pengaman bagi masyarakat, terutama menjelang meningkatnya kebutuhan konsumsi selama Ramadan dan Idulfitri.
