JAKARTA - Kondisi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang kian mengkhawatirkan.
Rentetan insiden longsor yang terus berulang menjadi alarm keras bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk segera berbenah.
Parlemen Kebon Sirih pun angkat suara.
Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Bun Joi Phiau, secara tegas meminta Pemprov DKI menghentikan pola penanganan “tambal sulam” yang selama ini dinilai tidak menyentuh akar persoalan.
Menurut Bun Joi, langkah teknis seperti perbaikan tembok, pembangunan turap, hingga pemindahan tumpukan sampah saat longsor terjadi sudah tidak relevan, mengingat kapasitas TPST Bantar Gebang kini nyaris mencapai batas maksimal.
“Ini tidak bisa lagi hanya sekadar memperbaiki tembok, membangun turap, atau memindahkan tumpukan sampah saat longsor terjadi. Mau diapakan juga, kondisinya sudah nyaris penuh,” tegas Bun Joi di Jakarta, Sabtu (10/1/2026).
Longsor Berulang Sepanjang 2025
Kekhawatiran tersebut bukan isapan jempol. Sepanjang Mei hingga Desember 2025, tercatat tiga kali insiden longsor terjadi di TPST Bantar Gebang.
Peristiwa paling mutakhir terjadi pada Rabu, 31 Desember 2025, ketika tumpukan sampah yang tidak stabil longsor dan menyebabkan tiga truk sampah tertimbun serta terperosok ke aliran sungai.
Bagi Bun Joi, rangkaian kejadian ini menjadi sinyal kuat bahwa persoalan sampah Jakarta telah memasuki fase darurat dan membutuhkan penanganan yang bersifat fundamental, bukan reaktif.
Masalah Ada di Hulu
Politisi tersebut menegaskan, penyelamatan TPST Bantar Gebang harus dimulai dari hulu, yakni dari Jakarta sebagai penghasil utama sampah, sebelum dikirim ke Bekasi.
Ia menyoroti minimnya fasilitas Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di Ibu Kota.
Hingga November 2025, TPS3R baru tersedia di sekitar 20 titik, jauh dari kebutuhan ideal.
“Idealnya, setiap kecamatan di Jakarta memiliki satu TPS3R. Artinya, saat ini baru separuh wilayah yang terfasilitasi,” ujarnya.
Untuk itu, Bun Joi mendorong Pemprov DKI agar segera mengambil langkah konkret, antara lain: Mempercepat pembangunan TPS3R di seluruh kecamatan, memperkuat Bank Sampah dan Bidang Pengelolaan Sampah (BPS) di tingkat RW, mengintensifkan edukasi pemilahan sampah kepada masyarakat
Beban Sampah Terus Meningkat
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta memproduksi sekitar 8.600 hingga 8.700 ton sampah per hari.
Tanpa strategi pengurangan sampah secara masif dari sumbernya, TPST Bantar Gebang diprediksi tidak akan lagi mampu menopang beban sampah Ibu Kota dalam waktu dekat.
“Kami berharap Pemprov DKI serius membentuk lebih banyak Bank Sampah agar volume sampah yang dibuang ke Bantar Gebang bisa ditekan secara signifikan ke depan,” pungkas Bun Joi.
